-
Bank Murni Digital Syariah Pertama
Indonesia adalah negara berpopulasi muslim terbanyak dunia, yang mencapai 231 juta jiwa atau setara dengan 82% dari total populasi. Banyak di antaranya belum terlayani jasa perbankan, dan menunggu “mukjizat” digital. Secara natural, Indonesia merupakan pasar besar industri keuangan syariah. Mengutip laporan riset Refinitiv dan ICD tahun 2020, Indonesia bersama dengan Malaysia, Bahrain, UEA, dan Arab Saudi menduduki peringkat yang strategis di kancah internasional dalam hal Islamic finance. Berdasarkan data Perbankan Syariah Juli 2021 Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total aset Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS) mencapai Rp 616,08 triliun. Jumlah tersebut melesat dari Rp 296,26 triliun di akhir 2015. Artinya, aset syariah nasional tumbuh lebih dari 15% secara rata-rata per tahun (compounded annual growth rate/CAGR) dalam 5 tahun terakhir. Namun, jika dibandingkan dengan total aset bank komersil Tanah Air, nilai aset perbankan syariah baru sebesar 6,5% saja.
Di tengah peluang besar di pasar keuangan syariah Tanah Air, PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK) hadir menjadi bank murni digital pertama nasional. Bank yang semula bernama PT Bank Net Syariah Indonesia Tbk ini mencuri perhatian sejak mengubah diri menjadi bank digital murni. Keputusan mengubah diri menjadi bank digital memang tergolong strategis, karena emiten berkode saham BANK ini memang terkategori sebagai Kelompok Bank dengan Modal Inti (KBMI) 1, alias bermodal di bawah Rp 6 triliun. Oleh karenanya, perseroan cocok untuk mengubah model bisnis menjadi bank digital murni yang tak memerlukan kantor fisik. Keunggulan platform digital memungkinkan mereka menggapai 77% populasi yang menikmati akses perbankan terbatas, terutama di kawasan terpencil.
Kunci kesuksesan bank digital terletak pada kekuatan dan kemampuannya untuk membangun ekosistem pengguna. Bank Aladin mengerti betul akan hal tersebut, sehingga mereka menjalin kerja-sama dengan pelaku industri lain terutama yang bergerak dalam sektor ritel. Mereka meneken kerja-sama dengan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) sebagai pengelola minimarket Alfamart yang memiliki 15.000 gerai di seluruh Indonesia. Kerja-sama ini akan menguntungkan kedua belah pihak. Dari sisi BANK, jumlah toko AMRT yang menjamur dapat menjadi sarana menggaet nasabah. Selain itu, BANK juga dapat mendeteksi perilaku konsumen di seluruh Indonesia untuk menentukan strategi pemasaran dan bisnis yang tepat. Tak berhenti di situ, perseroan juga bekerja sama dengan Halodoc untuk memperluas layanan telemedicine di seluruh Indonesia, terutama di tengah pandemi Covid-19 seperti sekarang.
Dengan berkembangnya bank digital syariah, transaksi dapat dilakukan secara digital yang memudahkan nasabah maupun pihak bank dalam bertransaksi. Karena pada bank digital syariah dapat dilakukan transaksi secara digital yang memudahkan nasabah dan bank dalam melakukan transaksi. Mudah dari segi cara, waktu, maupun dari segi tempat transaksi, termasuk transaksi tanpa kertas bahkan tanpa kartu. Dengan hadirnya bank digital syariah, para pelaku usaha dapat memanfaatkan teknologi informasi yang memudahkan transaksi, sehingga peluang berkembangnya ekonomi dan keuangan syariah bisa jadi semakin besar. Akan tetapi, perlu diperhatikan dan dipahami resiko-resiko dari transaksi digital, terutama terkait stabilitas kekuatan jaringan internet, risiko operasional, serta risiko-risiko lain termasuk bentuk kecurangan dari pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.
Sorry, there were no replies found.
Log in to reply.