-
Ekonomi Syariah Di Indonesia
Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki modal untuk menjadi pusat gravitasi ekonomi syariah global. Kita ketahui sektor ekonomi syariah di dalam negeri tumbuh signifikan.
Ekonomi syariah nasional terus menunjukkan progres menarik dalam beberapa tahun terakhir. Data The State of Global Islamic Indicator Report 2020/2021 menunjukkan Indonesia menempati posisi keempat pada tahun 2020, naik dari posisi 10 besar dunia pada tahun 2018 dan peringkat kelima pada tahun 2019.
Indonesia menjadi negara terbaik dalam sektor keuangan syariah dengan nilai Islamic Finance Country Index (IFCI) sebesar 83,35%. Cukup jauh di atas peringkat kedua yakni Arab Saudi dengan nilai 80,67% dan peringkat ketiga Malaysia di angka 80,01%.
Indonesia telah muncul sebagai pemain yang serius dalam industri jasa keuangan syariah global. Industri ini mencakup perbankan syariah, pasar modal syariah, takaful dan retakaful, keuangan mikro Islam hingga perusahaan teknologi keuangan berbasis nilai Islami.
Namun, capaian positif tidak membuat kita berpuas diri. Meskipun berada di tingkat pertama dunia dalam hal keuangan syariah, aset keuangan syariah Indonesia masih berada di peringkat ketujuh di bawah Negara Iran, Arab Saudi, Malaysia, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Kuwait. Di tataran dalam negeri, industri keuangan syariah juga baru menyumbang sebagian kecil (11,5 %) dari total aset keuangan nasional.
Tidak dapat dipungkiri bahwa BSI didirikan untuk menjadi solusi atas minimnya entitas di sektor keuangan syariah berkapasitas besar untuk menggerakan ekonomi syariah.
Berdiri pada 1 Februari 2021 sebagai hasil merger tiga bank syariah BUMN, yaitu PT Bank Syariah Mandiri (BSM), PT BNI Syariah (BNIS), dan PT Bank BRIsyariah Tbk. (BRIS) di tengah situasi pandemi yang memukul berbagai sektor bisnis di Indonesia dan dunia. Sebuah bank syariah dengan skala ekonomi yang kuat dan menembus 10 bank besar nasional serta kinerja yang solid.
Bahkan di tengah pandemi pada kuartal III/2021 berhasil menghimpun dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp219,19 triliun dengan jumlah pembiayaan Rp163,32 triliun. Di bottom line, laba naik 37,01 persen menjadi Rp2,26 triliun.
Bagi perusahaan, potensi peningkatan kinerja menjadi sangat besar. Selanjutnya memenuhi target yang diinginkan yakni menjadi rahmatan lil alamin dengan pemberdayaan umat, pengembangan sektor UMKM, going global, serta menjadi energi baru perekonomian nasional.
Sorry, there were no replies found.
Log in to reply.